Jumat, 23 September 2016

Microsoft akuisisi Linkedin Rp 349,3 triliun

Raksasa IT  Amerika Microsoft akhirnya resmi mengakuisisi LinkedIn dengan nilai 26,2 miliar dollar AS atau setara Rp 349,3 triliun. Sebelumnya, tak ada rumor yang beredar menyoal rencana tersebut.

Hal ini diumumkan CEO Microsoft, Satya Nadella melalui surat digital ke seluruh karyawannya. CEO LinkedIn, Jeff Weiner pun turut mengirimkan surat yang isinya kurang lebih serupa ke jajaran pegawainya.

"Kesepakatan ini akan menyatukan layanan cloud terkemuka dengan layanan jejaring profesional tersohor (LinkedIn)," kata Nadella.


Nadella menambahkan bahwa dirinya sudah memelajari bisnis LinkedIn dari jauh hari. Ia yakin layanan tersebut bisa meningkatkan kemampuan layanan-layanan berbasis cloud Microsoft, misalnya Office 365.

"Pengalaman mencari kerja di LinkedIn bisa berpadu dengan pengalaman mengerjakan proyek profesional di Office 365," ia menjelaskan.

Proses bisnis kedua perusahaan internet itu masih berlangsung. Keduanya menargetkan akhir tahun ini semua urusan prosedural bisa rampung.

Ke depan, model bisnis Microsoft dan LinkedIn akan serupa Facebookdan WhatsApp. LinkedIn akan tetap dipimpin Weiner dengan kultur yang telah dibangun selama ini.

Tragis, Yahoo, Sang Pioner itu, Akhirnya Diakuisisi Verizon


Kabar burung penjualan Yahoo bukan sebuah omong kosong. Verizon akhirnya resmi mengakuisisi bisnis internet inti milik Yahoo senilai USD 4,83 miliar atau sekitar Rp 63,6 triliun (USD 1 = Rp 13.157). Sebuah berita tragis, Yahoo yang dikenal sebagai salah satu pioner bisnis digital ini akhirnya berpindah tangan.

Akuisisi Yahoo akan meletakkan Verizon dalam posisi yang sangat kompetitif sebagai perusahaan media mobile global papan atas dan membantu meningkatkan pemasukan di bidang iklan digital. Demikian dijelaskan Lowell C. McAdam, CEO Verizon dalam pernyataan resminya.

Antara Yahoo dan Verizon sudah mencapai kata sepakat. Dengan langkah itu, Verizon menyatukan dua raksasa internet zaman dulu, yaitu AOL dan Yahoo. AOL sendiri diakuisisi oleh Verizon pada 2015 lalu senilai USD 4,4 miliar, demikian dikutip dari New York Times, Senin (25/7/2016).

Bagi Verizon, hal ini akan memperkaya portfolio bisnisnya, dengan tambahan layanan consumer dari Yahoo, yang meliputi mesin pencari, news, finance, sport, video, email dan jejaring sosial Tumblr. Penyedia layanan telekomunikasi seluler itu berharap bisa masuk ke posisi tiga -- di bawah Google dan Facebook -- dalam hal pemasukan iklan digital.

Bisnis yang diakuisisi oleh Verizon hanyalah bisnis inti Yahoo. Sementara itu perusahaan yang dipimpin oleh Marissa Mayer tersebut masih memiliki saham 35,5% di Yahoo Jepang senilai USD 8,3 miliar, 15% saham di raksasa e-commerce China Alibaba senilai USD 31,2 miliar serta beberapa paten.

Dirintis tahun 1994 oleh lulusan Stanford, Jerry Yang dan David Filo, Yahoo di tahun-tahun pertamanya melesat menjadi portal internet yang paling dikenal. Layanan email dan messenger Yahoo sangat populer di seluruh dunia. Di masa jayanya Yahoo pernah memiliki nilai tembus USD 125 miliar di tahun 2000. Tapi sejak kedatangan Google yang makin top, nasib Yahoo pun makin terkikis.

Perusahaan Luar Negeri Akan Investasi di Indonesia, Mencari Mitra Lokal


Relasi kami perusahaaan luar negeri akan mulai masuk dan menggarap bisnis Indonesia dan saat ini mencari mitra lokal untuk berkongsi. Perusahaan luar negeri ini siap invest hingga diatas Rp 1 trilun ( USD 100 juta) .

Sektor industri yang diminati antara lain manufacturing, agri bisnis, peternakan, properti, farmasi, consumer good dan ritel dan infrastruktur. Investor cukup fleksible apakah sebagai pemegang saham mayoritas atau minoritas, namun saham minoritas signifikan juga dipertimbangkan.

Bila perusahaan Bapak/Ibu butuh investor silahkan hubungi kami.email: sirdarmadi@mail.com

Minggu, 16 Oktober 2011

Cipaganti Agresif Akuisisi Perusahaan Tambang

Cipaganti Group melalui PT Cipaganti Inti Resources akan mengakuisisi sembilan perusahaan tambang di Kalimantan Timur. Ke depannya, CEO Cipaganti Group Andianto Setiabudi mengaku sudah menjalin kerja sama dengan sejumlah pemegang izin usaha pertambangan Kalimantan Timur.

Adapun perusahaan yang akan diakuisisi yakni Koperasi Paser Bolum Taka, PT Inti Jaya Prima Coal, PT Borneo Resources Persada, PT Citra Inti Jaya, PT Cipaganti Energy Resources, PT Jayakhisma Globe Indonesia, PT Maesa Persada Jaya, PT Adas Abadi, dan CV Temiang.

“Lokasinya tersebar di Penajam, Paser, Kutai Barat, Kutai Timur dan Kutai Kartanegara,” ungkap Andianto, di Pontianak, Rabu (27/4/2011).

Melalui sembilan izin usaha pertambangan, Andianto menargetkan perusahaanya sudah mampu menambang 250 ribu metrik ton batu bara per bulannya. Batu bara sebanyak itu senilai dengan USD12,5 juta untuk perkiraan pasar internasional.

Sebagai pemain baru bisnis batu bara, Andianto siap penerapan bisnis pertambangan yang berwawasan lingkungan. Cipaganti Group menyiapkan berbagai alokasi dana comdev, corporate social responsible hingga dana jaminan reklamasi.

“Kami mengikuti aturan yang sudah ada saja. Seperti menyetorkan dana jaminan reklamasi sebesar Rp300 juta pada pemerintah daerah setempat,” paparnya.

Cipaganti Group sejak 2008 silam sudah berancang-ancang masuk bisnis pertambangan batu bara lewat jasa rental peralatan beratnya. Namun investasinya tertunda menyusul krisis global melanda Indonesia dan dunia pada 2009. Saat ini Perusahaannya telah memiliki 500 armada alat berat dan termasuk dumptruck.

“Kami sudah ada konsesi batu bara di Kutai Barat dan Penajam, tapi terpaksa kami rem karena ada krisis global,” katanya.(okz)

Paramount Land Development, Akuisisi Proyek 'Mati'

PT Paramount Land Development, pengembang yang berbasis di Singapura ini langsung menggebrak pasar properti domestik dalam kiprah perdananya. Mereka mengakuisisi proyek KSO Ambassador Gading Serpong (AGS) milik Grup Keris pada Oktober 2006 lalu.

Sejatinya, manuver strategis PT Paramount Land Development itu tidaklah terlalu mengejutkan. Mengingat orang-orang yang berada di belakangnya adalah para veteran profesional properti dengan karakter risk and challenge taker. Di antaranya, Tanto Kurniawan yang menempati posisi Presiden Direktur. Pria berkulit terang ini sebelumnya pernah menjadi pemuncak PT Jaya Real Property Tbk, PT Jaya Land, PT Jaya Garden, PT Jaya Fuji Leasing, dan PT Jaya Artek. Perusahaan-perusahaan tersebut dikenal sebagai pelopor dalam bisnis dan industri properti lokal. Salah satu proyek fenomenalnya adalah perumahan skala kota, Bintaro Jaya di Tangerang.

Ia juga sempat menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur PT Pembangunan Jaya dan Komisaris PT Bumi Serpong Damai. Selama bergabung dengan klan bisnis milik Ciputra itu, Tanto kerap melakukan aksi ambil alih proyek. Terutama yang tengah sekarat, alias mati suri. Tahun 1995, ia sukses membeli Puri Jaya seluas 1.800 Ha. Di tahun yang sama, giliran proyek 200 Ha Perigi Permai milik Grup Kalbe yang diokupansi sebelum setahun kemudian mengoleksi aset Grup Kalbe yang lain, yakni Kebayoran Regency. Yang terakhir ini seluas 400 Ha.

Sementara, rencananya meminang Kedaton Indah (Kedaton Golf City), portofolio eksklusif PT Duta Ratu Jaya (kini PT Duta Realtindo Jaya), gagal direalisasikan. Kasus-kasus hand over tersebut, pada saat itu menjadi fokus perhatian. Karena PT Jaya Real Property Tbk adalah satu-satunya pengembang yang aktif melakukan akuisisi. Tidak hanya karena skala aset yang diakuisisi berukuran raksasa, juga meningkatkan posisi tawar PT Jaya Real Property Tbk sebagai perusahaan yang baru listing di lantai bursa. Dengan pendekatan serupa itulah Tanto mengelola kendaraan barunya.

PT Paramount Land Development membeli AGS setelah mendapat tawaran dari PT Jakarta Baru Cosmopolitan (JBC) untuk menggantikan Grup Keris. Sekadar informasi, JBC merupakan perusahaan aliansi antara Grup Keris dan PT Summarecon Agung Tbk. Pada 2004, keduanya sepakat untuk bercerai dan fokus pada unit bisnis masing-masing dengan membentuk KSO. PT Summarecon Agung Tbk dengan KSO Summarecon Serpong, dan Grup Keris dengan KSO AGS.

Menjadi menarik dan tentu saja menimbulkan pertanyaan, mengapa PT Paramount Land Development menerima ajakan JBC untuk menggeser Grup Keris? Dari segi pembiayaan, bukankah tidak lebih murah kalau mereka membangun proyek dengan SIPPT baru? Lalu, apakah pertimbangan mendasar JBC untuk menjual AGS?

“Posisi tawar kami lebih menguntungkan. Karena AGS mengalami kesulitan finansial, cashflow-nya tidak aman. Sehingga tidak mampu membangun tepat waktu. Ini yang mengakibatkan penjualan tersendat, karena orang kadung kecewa ,” buka Tanto.

Oleh karena itu, pasca akuisisi, PT Paramount Land Development langsung merekonstruksi pasar. Di antaranya mengubah wajah AGS menjadi Paramount Lakes. Nama baru ini mengusung konsep besar ‘rumah sembilan danau’. Proyeksi pengembangan hunian sebanyak 5.000 unit, di atas lahan 333 Ha. Terdiri atas tiga distrik utama, residensial, komersial dan integrasi keduanya. Tahap pertama dibangun 479 unit rumah berukuran 128-216 m2 seharga Rp410 juta-689 juta, 52 unit rumah bandar [town house], dan 25 unit ruko.

Selain transformasi fisik, Tanto juga melakukan restrukturisasi organisasi manajerial. Mulai dari level direksi, manajer, penyelia, hingga tim marketing. Ia beralasan, Serpong sebagai lokasi Paramount Lakes terlalu menarik kalau hanya dikelola oleh sebuah sistem manajerial yang konvensional dan konservatif. “Apalagi, perkembangan nilai propertinya menunjukkan tendensi meningkat. Sekitar 20-30% per tahun kenaikannya. Lebih tinggi dibanding kawasan lain. Perkembangan wilayah ini akan terus berlanjut,” imbuhnya.

Karenanya, Tanto sudah berhitung. Dengan nilai investasi sebesar 1,5 miliar dolar Singapura (setara Rp9 triliun) untuk 15 tahun ke depan, Paramount Lakes bakal memberikan keuntungan investasi. Sebab, harga propertinya terhitung kompetitif. Dus, dengan pengembangan simultan, ia yakin Paramount Lakes akan menjadi sentra kota di koridor Serpong.

Di luar perumahan Serenade Lakes, Festival Lakes, Paramount Hill Golf, Paramount Spring, Springfield, dan Cashmere Curve, bakal dikembangkan area hot spot di kawasan CBD Paramount Lakes. Nantinya area ini bernama Paramount Digital Arcade (PDA) seluas 40 Ha yang terdiri atas pusat teknologi informasi Digital Junction dan Digital Mall, serta Paramount Offices and Hotels dengan teknologi wireless berbasis fiber optic.

Tak puas berhenti pada proyek Paramount Lakes, gebrakan PT Paramount Land Development terus berlanjut. Usai melakukan ekspansi lahan properti perdananya itu menjadi 600 Ha ke arah barat dan selatan, pada awal tahun, PT Paramount Land Development punya rencana besar lainnya. Saat ini mereka tengah bergerilya lahan di sekitar Jakarta Barat guna dijadikan sekuel Paramount. Pengembang mana lagi yang rela melego asetnya? Silakan menebak, apakah itu lahan milik Grup Kalbe (kebetulan kolega dekat Tanto), Grup Pondok Indah atau Grup Lippo?



Tanto hanya menjawab dengan senyum. Namun, yang jelas, menurutnya, bukan proyek pasien PPA. “Lokasinya sangat strategis di sekitar Jakarta Barat, dengan infrastruktur yang sudah terbangun dengan baik. Aksesibilitasnya pun sangat memadai,” urainya seraya menambahkan nantinya akan terbentuk poros Serpong-Jakarta Barat dengan Paramount sebagai episentrumnya.



Tentu saja, dengan rancangan-rancangan tak umum seperti itu (apalagi di tengah situasi yang kurang kondusif ini), dibutuhkan dana ukuran jumbo. Namun, Tanto tak gentar, karena kondisi ekuitas serta struktur finansial perusahaannya masih sanggup mengoleksi 4 hingga 5 perumahan skala kota lainnya. “Big is beautiful. Semakin besar cadangan lahan yang dimiliki sebuah pengembang, semakin cerah prospek kelangsungan investasi perusahaannya,” ucapnya. Lagipula, mengakuisisi itu lebih murah dibandingkan dengan mengembangkan sendiri. Pihaknya tidak harus mengorganisasi pembebasan lahan yang membutuhkan waktu lama. Sementara proses akuisisi lebih cepat. Karena, sesungguhnya, waktu adalah uang!

Soho Akuisisi Pabrik Farmasi

Pertumbuhan industri berbasis farmasi terus meningkat. Soho Group menargetkan bisa mencapai pertumbuhan sampai 20 persen pada 2011. Untuk memperkuat bisnisnya, tahun ini mereka kembali akan melakukan akuisisi perusahaan farmasi lokal. Sebelumnya, 2010 mereka telah mengakuisisi perusahaan asing asal Australia.

Presiden Direktur Soho Group Marcus Pitt mengatakan, langkah akuisisi ditempuh untuk memperkuat bisnis inti di bidang farmasi. Saat ini, pihaknya masih melakukan identifikasi untuk mengetahui potensi akuisisi. ’’Ada satu perusahaan di Jawa Tengah yang akan kami akuisisi,’’ katanya saat family gathering Soho Group di JI Expo Kemayoran pekan lalu.

Sebelumnya, tahun lalu Soho Group telah mengakuisisi perusahaan farmasi yang berbasis di Australia. Marcus menuturkan, langkah akuisisi perusahaan asing tersebut untuk mengembangkan jaringan di tingkat global.

’’Tiap melakukan akuisisi, selalu pada perusahaan dengan produk yang sama yakni farmasi. Sebab, kami ingin lebih khusus mengembangkan bisnis farmasi, bukan ekspansi di luar core business,’’ tuturnya.

Dikatakan, pengembangan jaringan internasional tersebut bisa mendukung pasar ekspor. Ada sebelas negara yang menjadi negara tujuan ekspor di kawasan Asia-Afrika. Beberapa di antaranya Vietnam, Thailand, Korea, Kamboja, Filipina dan Mongolia.

’’Komposisi ekspor masih satu persen dan kebanyakan produk temulawak. Sisanya 99 persen memenuhi market domestik. Tapi tahun ini kami targetkan ekspor naik menjadi tiga persen,’’ ucapnya.

Dia meyakini, ke depan bisnisnya di tanah air masih bagus kendati ada serbuan produk farmasi asal Tiongkok. Alasannya karena kualitas yang mencakup produk dan suplai yang kuat.

’’Saat ini bisa dibilang kami masuk empat perusahaan farmasi terbesar di Indonesia. Dan, masuknya produk asal Tiongkok bukan ancaman bagi kami,’’ tandasnya.

Karena itu, pihaknya optimistis bakal mencapai mencapai target pertumbuhan 20 persen pada tahun ini. Sebelumnya, selama lima tahun berturut-turut, perusahaan tersebut membukukan pertumbuhan rata-rata sebanyak 20 persen tiap tahunnya.

’’Selain melakukan akuisisi, kami akan tetap mengembangkan produk baru maupun peralatan medis,’’ ungkapnya.

Soho Group juga berencana melakukan investasi baru. Antara lain, membangun fasilitas manufaktur, memperbarui non steril produk dan mengembangkan steril injeksi. Ditambah melakukan kerjasama dengan perusahaan India dalam hal pengembangan bisnis perusahaan. Soho Group adalah perusahaan lokal yang memiliki lima unit bisnis. Antara lain, PT Ethica Industri Farmasi, PT Soho Industri Pharmasi, PT Parit Padang Global, PT Global Harmony Retailindo dan PT Universal Health Network. (jpnn/c3/wan)

Para Group akuisisi 40 persem saham PT Carrefour Indonesia

Trans Corp anak usaha dari Para Group mengakuisisi 40 persem saham PT Carrefour Indonesia dan menjadi pemegang saham terbesar. Nilai total dari akuisisi perusahaan retail terbesar di Indonesia tersebut itu di atas 300 juta dolar AS atau sekitar Rp 3 triliun lebih.

Pemilik Para Group Chairul Tanjung mengatakan, untuk akuisisi Carrefour ini pihaknya mendapat pinjaman dari konsorsium empat Bank Asing sebesar 350 juta dolar AS. "Di antaranya Credit Swiss, Citibank, JP Morgan, ING Commercial Bank. Sisanya akan digunakan untuk menambah modal usaha," paparnya di Jakarta, Jumat (16/4)

Chairul mengungkapkan, dengan penguasaan 40 persen saham, pihaknya mendapatkan hak untuk menduduki posisi komisaris sebanyak empat orang dan direksi sebanyak dua orang. "Saya sekarang yang menjadi Presiden Komisaris PT Carrefour Indonesia," jelasnya.

Saat ini, sambung Chairul, dua posisi komisaris diduduki oleh mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) S Bimantoro dan Jenderal Purnawirawan AM Hendropriyono. "Nah dari empat komisaris baru terisi tiga orang saja. Sedangkan dari dua direksi, belum masuk satu pun sampai sekarang," ungkapnya.

Chairul menjelaskan, saat ini Carrefour menghadapi beberapa kendala, dan tujuan jangka pendek pihaknya ialah menyelesaikan kendala itu secepatnya. Terutama, sambung dia, terkait pengajuan kasasi kepada Mahkamah Agung (MA) oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). "Kami akan menghadapi gugatan itu sesuai dengan prosedur formal hukum," ulasnya.

Dia menuturkan, jika dirinya akan segera menemui KPPU untuk mencari jalan ke luar. Seperti diketahui, pihak KPPU kini sedang mengajukan kasasi ke MA, setelah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan membatalkan seluruh putusan KPPU No 09/KPPU-L/2009, tanggal 3 November 2009 terkait kasus Carrefour.

Dalam keputusan sebelumnya, KPPU menyatakan Carrefour bersalah yang melanggar pasal 17 ayat 1 mengenai monopoli dan pasal 25 ayat 1 huruf (a) mengenai possisi dominan sesuai UU No 5 tahun 1999 mengenai larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

Dari putusan itu pihak KPPU memutuskan untuk memberikan denda hukuman kepada Carrefour Rp 25 miliar. KPPU juga meminta kepada Carrefour untuk melepas kepemilikan seluruh sahamnya di PT Alfa Retailindo kepada pihak yang tidak terafiliasi dengan Carrefour selambat-lambatnya satu tahun setelah putusan KPPU.

Seperti diketahui, pada Januari 2008 Carrefour mengakuisisi 75 persen saham PT Alfa Retailindo Tbk yang pada saat itu mengiperasikan 29 Suoermarket. Atas keputusan tersebut, akhirnya Carrefour pun mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dan akhirnya menang.

Selain itu, Chairul menjelaskan, terkait penutupan gerai Carrefour di beberapa daerah, Chairul memastikan hal itu bukan karena peritel itu melanggar peraturan daerah. "Tidak ada satupun gerai yang melanggar peraturan daerah," ungkapnya.

Menurutnya, semua itu adalah masalah-masalah yang akan diselesaikan Carrefour setelah ini.
Selain itu, Chairul menyatakan, momentum pengakuisisian ini harus disukuri sebagai langkah pertama sebuah perusahaan nasional mengakuisisi perusahaan mutinasional yang merupakan salah satu perusahaan terbesar di dunia.

Ditanya soal rencana akuisisi mendatang, Chairul masih enggan memberikan keterangan. Menurutnya, sementara ini pihaknya hanya akan berfokus pada core bisnis Para Group. Di sektor Finansial, lanjut dia, belum ada rencana.

Sedangkan untuk akuisisi media lifestyle, ungkap Chairul, ini adalah rencana bagus yang akan berkembang, baik organik dan anorganik. "Namun, sampai saat ini belum ada yang bisa kami laporkan, jadi kami akan laporkan kalau ada yang sudah selesai kesepakatan," ucapnya.

Chairul mengungkapkan, jika ke depannya Carrefour harus dapat memastikan sembilan bahan pokok bisa dijual dengan harga yang terbaik dan memberi kesempatan yang lebih luas kepada UMKM untuk menjual produknya serta menjadi pembina dari kelompok-kelompok tani dan perternak.

Sementara itu, CEO PT Carrefour Indonesia, Shafie Shamsuddin menuturkan, dengan adanya akuisisi ini diharapkan akan semakin memperkuat kedua belah pihak. Menurutnya, Para Group memiliki beberapa unit usaha yang dapat dihubungkan dengan Carrefour. "Contohnya disektor finansial para supplier nantinya dapat memanfaatkan fasilitas pembiayaan melalui institusi keuangan yang ada di Para Grop," terangnya.

Shafie mengungkapkan, pada tahun 2010 ini ditargetkan akan membuka 13 gerai baru. "Akhir bulan ini kami akan buka dua gerai, satu di Singaraja di Bali dan satu lagi di Pontianak," tukasnya.

Jadi saat ini, kepemilikan saham PT Carrefour Indonesia terdiri atas 40 persen Trans Corp, Carrefour SA setara dengan 39 persen, Carrefour Nederland BV setara dengan 9,5 persen dan Onesia BV setara dengan 11,5 persen.

Saat ini Carrefour Indonesia mengoperasikan 79 gerai yang terdiri dari 63 hypermarket dan 16 supermarket di 22 kota. Pada tahun 2009 Carrefour Indonesia memperoleh nilai penjualan sebesar Rp 11,7 triliun. Carrefour saat ini juga memiliki sekitar 20 ribu karyawan langsung dan tidak langsung seperti konsultan produk, kebersihan dan keamanan yang terbesar di seluruh Indonesia.

Carrefour bermitra dengan lebih dari 4000 pemasok dari seluruh Indonesia yang 70 persen dari jumlah tersebut merupakan termasuk dalam kategori usaha kecil dan menengah (UKM).